Kapan Ahmadiyah bisa bubar? Hanya Allah yang tahu...Allah sendiri akan membubarkan Ahmadiyah, kalau memang dalam pandangan Allah Ahmadiyah memang patut dibubarkan. Dalam kaitan dengan kita Alquran telah megajarkan bagaimana menyerahkan persoalan-persoalan berkenaan dengan golongan-golongan semacam Ahmadiyah ini. Saya hendak mengajak kita menyerahkan hal ini kepada Allah, memang tindakan yang menunjukkan ketidak-setujuan, protes dan apapun bentuknya adalah boleh-boleh saja tetapi tidakkah kita berpikir untuk menyerahkannya kepada Allah, seraya terus berdoa bahwa lambat laun kalau Ahmadiyah sesat Allah tidak akan membiarkannya dan akan membinasakannya. Disisi lain kita melihat bagaimana Ahmadiyah terus berkembang atau setidaknya Ahmadiyah telah langgeng sudah lebih dari 100 tahun, hal itupun tentunya menjadi bahan renungan bagi kita.

Allah telah menekankan kepada kita bahwa wainnahu lahaafidzuun yakni berkenaan dengan syariat islam yang dibawa oleh Rasullah saw, “Allahlah yang menjaga dan melindunginya”, begitu juga walllahu ya'shimuka minannaasi- Allah akan melindungi engkau (Muhammad saw) dari segala serangan manusia, kalam engkau pun akan dijaga dan dilindungi oleh Allah taaala kenabian dan kesucian mu pun akan dijaga oleh Allah taala”.

Jadi jika sudah ada perjanjian dari Allah taala, kepada syariat nabi muhammad saw bahwa beliau akan dijaga dan dilindungi dalam segala hal oleh Allah taala maka tentu Allah akan melindungi Islam ini/ajaran Rasulullah ini dari kerusakan yang dibuat oleh Mirza Ghulam Ahmad. Artinya kalau memang Ghulam Ahmad atau Ahmadiyah adalah sesat maka tentu Allah akan menggilas ajaran Ghulam Ahmad yang mengaku-aku dari Islam dan mengaku menjalankan syariat Rasulullah saw dan tidak akan membiarkannya langgeng dalam perjalanannya.

Karena kita bisa mengatakan bahwa orang yang mengaku diutus dari Allah tetapi ia pendusta berati ia telah menipu Allah. Dan kepada orang -orang seperti itu tidak akan diberikan kelonggaran oleh Allah taala, tidak akan langgeng, tidak akan diberi petunjuk dan tidak akan diberi pertolongan, dan tentu tidak akan diberi falah-kemenangan, kesuksesan. Begitu juga dengan Ghulam Ahmad yang telah mengaku diutus oleh Allah, kalau dia memang pendusta tentu dia telah menipu Allah taala, dan orang yang menipu atau pendusta atau yang mangada-ada terhadap Allah tidak akan mendapat kelonggaran, pertolongan, petunjuk ataupun kemenangan. Jika kita memperhatikan ayat-ayat berikut ini yakinlah kita betapa janji Allah terhadap orang yang mengada-ada dusta kepada Allah, maka Allah sendiri yang akan membinasakannya. Jika Allah berkehendak tentu penghancuran itu akan dengan sendirinya walaupun tanpa bantuan kita sekalipun. Allah taala berfirman:

“Jika engkau (Muhammad) sangat mengharapkan agara mereka mendapat petunjuk, maka sesungguhnya Allah tidak akan memberi petunjuk kepada orang yang disesatkan-Nya dan mereka tidak memperoleh penolong”.(An-nahl: 37)

“Sesungguhnya orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah tidak akan beruntung, sukses”. (An-Nahl: 116)

...”Celakalah kamu! Janganlah kamu mangada-adakan kebohongan terhadap Allah, nanti Dia membinasakan kamu dengan azab”. Dan sungguh rugi orang yang mengada-ada kan kebohongan.” (Tho-ha: 61)

“Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang-orang yang mengadakan kedustaan terhadap Allah, atau mendustakan ayat-ayat-Nya? Sesungguhnya orang-orang zalim itu tidak mendapat keberuntungan” (Al-An'am:22).

Terhadap Rasulullah sendiri-untuk meyakinkan para pengingkar-Allah taala menekankan bahwa:

“Dan seandainya dia (Muhammad saw) mengadakan sebagian dari perkataan atas nama Kami, niscaya Kami pegang tangan kanannya, kemudian kami potong urat jantungnya”. (Al Haaqqoh:44-46).

Pertanyaannya kini ialah, dapatkah Ahmadiyah dimusnahkan? Untuk menjawab pertanyaan ini mari kita cermati dengan seksama, bahwa dasar pokok permasalahan ini ialah kita megetahui Ahmadiyah meyakini bahwa setiap pengkuan yang dikemukakan oleh Ghulam Ahmad mempunyai dasar yang teguh, mereka mengatakan dari Allah taala. Ahmadiyah berpendapat bahwa Ghulam Ahmad mendapat wahyu, diperintahkan oleh Tuhan untuk mewujudkan kebangkitan kembali islam dan kemenangannya atas semua agama. ringkasnya Demikianlah keadaannya. Nah sekarang kita perhatikan dari pernyataan ini hanya ada dua sifat, benar atau salah/palsu. Sekarang kita perhatikan kalau Ahmadiyah memang palsu-berdasarkan yat-ayat diatas yang telah kita baca bersama-maka tentu Ahmadiyah dengan sendirinya akan runtuh bak bangunan yang tergerus oleh waktu atau seperti bangunan yang roboh oleh bebannya sendiri karena tiadanya penopang yang kuat, takkan bertahan. Tetapi jika sebaliknya bahwa ternyata Ahmadiyah benar, jika Ghulam Ahmad memang diutus Allah maka kebalikannya dari ayat-ayat diatas tentu Ahmadiyah akan bertahan dan berkembang, kendati semua berhimpun berniat menghancurkannya dia akan tetap lestari, karena di belakangnya bekerja kekuatan Sang Pemilik Segala Kekuatan. Sejarah nabi-nabi terdahulu telah meyakinkah kita atas hal ini, karena dibalik mereka Allah taala berada sebagai penopang mereka.

Sehingga jika ada pertanyaan lagi yang mengatakan bagimana kita bisa membuktikan Ahmadiyah benar atau salah, kalau melihat dari dua patokan ini-yaitu yang salah akan dibinasakan dan yang benar akan berkembang- kita akan bisa melihat sendiri bagaimana keadaan Ahmadiyah. Kalau Ahmadiyah hancur maka kita bisa mengatakan salahlah Ahmadiyah, tetapi jika kita melihat ternyata Ahmadiyah tetap bertahan dan malah berkembang maka kita akan mengatakan bahwa Ahmadiyah adalah benar.

Kita sebutkan disini beberapa hukum dan janji-janji Allah taala, terhadap golongan Allah akan selalu menang. Kita baca dalam kita suci bahwa “Tuhan telah menetapkan bahwa Aku dan pesan Ku akan menang”. Nah kalau Allah akan menang maka tak ada satupun yang akan dapat menghancurkan suatu gerakan yang berasal dari Tuhan. Selanjutnya kita baca dalam surah Yunus ayat 103 “kemudian akan kami selamatkan rasul-rasul kami dan orang-orang yang beriman, demikianlah kewajiban kamilah untuk menyelamatkan orang-orang beriman”.

Pada tempat lain kita baca “Adalah kewajiban Kami untuk menolong orang-orang beriman” (Ar-Rum[30]:47). Dan lagi pada surah Al-mujadilah[58] ayat 22 terdapat “...mereka itulah orang-orang yang dalam hatinya telah ditanamkan Allah keimanan dan Allah tealh menguatkan meereka dengan pertolongan yang datang dari Dia. Lalu dimasukkan-Nya mereka ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. Allah ridho terhadap mereka dan mereka pun Ridho kepadaNya. Merekalah Golongan Allah. Ingatlah sesungguhnya golongan Allah itulah yang menang.” Demikian pula dalam surah Al-maidah[5]:56, “Dan mereka yang mengambil Allah dan Rasul-Nya dan orang-orang beriman sebagai kawan haruslah yakin bahwa adalah golongan/partai Allah yang akan memperoleh kemenangan”.

Pelajaran dari kisah Fir'aun dan Musa

Bagaimana kita harus bersikap adalah baiknya kita mengambil pelajaran dari kisah penentangan Fir'aun terhadap nabi Musa a.s. Di dalam Alquran (Q.S. A-Mu'min[40]:28) diceritakan tentang keadaan di zaman Firaun, Allah taala berfirman bahwa ketika nabi Musa a.s. mendakwakan diri sebagai nabi, maka para pemuka agama di zaman itu bangkit menentang nabi Musa a.s. Ketika nabi Musa a.s. mendakwakan diri “aku diutus oleh Allah taala” maka sontak hati mereka menjadi panas terbakar dan serentak menentang nabi Musa a.s. Sang Utusan Ilahi yang gagah berdiri seorang diri. Pada waktu itu Firaun lah yang paling berang dan bersama-sama dengan para pemuka kaumnya bersatu menentang nabi Musa a.s. serta membuat persekongkolan. Dan mereka beranggapan bahwa orang yang mengaku datang dari Allah itulah (Nabi Musa a.s.) penyebab kemarahan masyarakatnya. oleh karena itu diputuskanlah untuk membunuh nabi Musa a.s. Tidak ada jalan lain, akarnya harus dicabut dengan segera sebelum menjalar lebih jauh.

Setelah Fir'aun dan para pengikutnya memutuskan untuk membunuh nabi Musa a.s. Seorang cerdik cendikia dari keluarga Fir'aun datang menemui Fir'aun dan para pembesarnya. Orang itu berkata kepada Firaun: “Takutlah kepada Allah dan pergunakanlah akalmu apakah kamu akan membunuh seseorang hanya karena dia berkata 'Tuhanku adalah Allah!, lebih lanjut dia berkata, “wainnyyaku kaadziiban fa'alaihi kadzibuhu-yakni “jika orang ini (Musa a.s.) berdusta, atau jika orang memang benar bukan berasal dari Allah tetapi dia mengaku datang dari Allah, maka bukanlah pekerjaan kalian untuk membinasakannya melainkan pekerjaan Allah, oleh karena itu apa urusan kalian dengannya? Sebab ia tidak merugikan kalian, Allah sendirilah akan berurusan langsung dengannya, karena siapa-siapa yang mendustakan atas nama Allah maka Allah sendirilah yang akan membinasakannya dan dia akan mati dalam kedustaannya.

Tetapi ingatlah jika orang ini ternyata benar tetapi kalian menganganggapnya pendusta dan kalian memusuhinya (wainnyyaku shoodiqon) maka yuzhib lakum ba'dhol-ladzi ya'idukum - pasti Allah akan menurunkan azab kepada kalian yang memusuhi kebenaran itu dan kalian tidak akan terlepas dari azab itu, oleh karena itu mengapa kalian ikut campur tangan dalam urusan ini yang tidak ada sangkut pautnya dengan kalian?

Dengan demikian, berkenaan dengan Ahmadiyah, dalam hal ini pendakwaan Ghulam Ahmad, dari dua kemungkinan ini hanya ada satu kemungkinan saja bila beliau berdusta, yaitu beliau telah berdusta atas nama Allah dan untuk itu pekerjaan kita hanyalah menunggu bagaimana perlakuan Allah terhadap orang-orang yang berdusta (atas nama-Nya) dalam hal ini Ghulam Ahmad/Ahmadiyah. Sebaliknya jika kita menganggap Ghulam Ahmad pendusta atau Ahmadiyah adalah sesat padahal ternyata beliau berada di pihak yang benar, maka kita sendiri yang akan mendapat azab dari Allah taala, dan kita tak tahu apa yang akan kita terima.

Inilah yang dapat diterima oleh akal, inilah perkataan Allah, perjanjian Allah kepada kita yang tertuang di dalam Alquran. Memang pernyataan ini bukan berarti menafikan tindakan-tindakan nyata bentuk-bentuk penentangan, melainkan seharusnya berhati-hati dalam mengambil kesimpulan, jangan sampai kita dengan begitu yakin seperti halnya Fir'aun dengan semena-mena memperlakukan siapapun yang kita anggap tidak sesuai dengan akidah kita, atau berseberangan dengan kita, karena yang namanya keyakinan itu adalah hal yang bersifat ghaib, yang untuk itu kita serahkan kepada Sang 'Aalimul Ghoib, yang Maha Ghaib, yang Maha Mengetahui. Terhadap Ahmadiyah yang jika toh nyata-nyata sesat maka tentu Allah tidak mungkin membiarkannya berkembang tetapi jika keadaan menunjukkan sebaliknya, yaitu Ahmadiyah dengan segala perkembangan suksesnya tentu kita mulai mempertanyakan, ada apa dibalik ini? Apakah Allah telah menyalahi janjinya, atau tak ambil peduli atau kita yang masih belum mengerti?....Hanya Allah yang tahu.


Tulisan serupa:

1. Amuk Ahmadiyah!

2. Mau diapakan Ahmadiyah
3. Menyembelih Ahmdiyah