Selasa, 31 Maret 2015

Yesus Selamat dan Tidak Wafat di Tiang Salib - Tinjauan Medis

Penyaliban Yesus

Keyakinan Yahudi tentang Yesus adalah ia telah wafat di tiang salib, sehingga membuktikan bahwa misi ke Almasihan Yesus adalah palsu, sedangkan Kristen berpandangan bahwa Yesus telah wafat di tiang salib dan dibangkitkan untuk menebus dosa manusia dari warisan dosa Adam dan Hawa. Disisi lain di dunia ilmiah terdapat pandangan lain yang menyatakan bahwa Yesus tidak wafat di tiang salib melainkan hanya pingsan. Kita biasa mengenal pendapat ini dengan nama the swoon theory (terori pingsan), terori yang sudah dikenal di kalangan ilmiah sejak 1780.

Di dunia Islam salah golongan yang menyatakan bahwa Yesus tidak mati di tiang salib adalah Ahmadiyah, diterangkan bahwa Yesus telah disalibkan tetapi tidak wafat, melainkan selamat dan wafat secara wajar layaknya manusia biasa. Pendapat ini menjelaskan bahwa Yesus telah selamat dari penyaliban dan tidak ada kebangkitan kembali.

Salah satu penjelasan tentang ini adalah tulisan dibawah ini yang membahas tentang penyaliban Nabi Isa ditinjau dari aspek medis, yang menjelaskan bahwa selama penyaliban Yesus masih cukup kuat untuk bisa diselamatkan. Ditulis oleh Dr. H.U Rehman dari Chelmsford, UK. yang diterjemahkan dari Reviewofreligions.org oleh A.Q. Khalid.

Penyaliban dari Aspek Medis


Oleh: Dr. H.U. Rehman – Chelmsford, UK
Penterjemah : A.Q. Khalid

Banyak sudah ditulis dan berbagai teori telah dilontarkan orang mengenai penyebab kematian Yesus atau Nabi Isa a.s. di atas kayu salib. Namun tidak ada dari teori-teori itu yang menjelaskan rincian sejarah, injili maupun medikal dari kejadian tersebut.

Pontius Pilatus sebagai Gubernur Roma yang mengadili Nabi Isa a.s. meyakini ketidakbersalahan beliau namun terpaksa menyerahkannya kepada para musuh beliau saat mereka mengancam akan mengadukan dirinya kepada Kaisar Roma jika ia sampai membebaskan Yesus (1). Hanya saja secara rahasia ia melakukan segala upaya guna menyelamatkan Yesus dari kematian. Ia memperpanjang masa persidangan sampai sore di hari Jumat karena mengetahui bahwa adalah bertentangan dengan hukum Taurat bagi umat Yahudi untuk meninggalkan seseorang tergantung di salib setelah senja masuk Sabbath. Waktu yang tersisa untuk penyaliban demikian singkatnya sehingga tidak mungkin kalau Yesus bisa mati di atas salib. Kedua pencuri yang bersama disalib selama jangka waktu yang sama dengan beliau, nyatanya masih tetap hidup saat itu sehingga untuk membunuh mereka maka kaki-kaki mereka diremukkan, sedangkan Yesus diselamatkan dari petaka demikian (2). Yusuf dari Arimathea, seorang murid rahasia dari Yesus, telah memohon kepada Pilatus agar dirinya diizinkan membawa pulang jasad Yesus, dimana hal ini bertentangan dengan kebiasaan saat itu, tetapi ternyata Pilatus mengizinkannya melakukan hal tersebut. Kemudian Yusuf  beserta Nikodemus, yang adalah seorang tabib, mengangkut jasad Yesus tetapi tidak menguburkannya di pemakaman umum. Mereka meletakkan beliau dalam sebuah makam berongga. Yesus hanya pingsan di atas kayu salib, dianggap orang banyak telah mati, tetapi kemudian pulih kembali dari keadaan koma. Ketika diberitahukan keadaan Yesus, nyatanya Pilatus merasa heran bagaimana mungkin Yesus bisa mati dalam jangka waktu yang demikian singkat (3).

Sebelum disalib, Yesus dilecut terlebih dahulu. Lecutan demikian menggunakan cambuk dengan duabelas tali kulit yang bermula pada sebuah genggaman. Di ujung masing-masing tali kulit terdapat bola besi kecil atau serpihan tulang domba yang tajam. Beberapa lecutan yang pertama akan menimbulkan memar dan lebam, tetapi lecutan berikutnya akan mengakibatkan serpihan tulang domba itu menyayat lapisan kulit subkutan dan jaringan otot. Rasa sakit dan kehilangan darah akan menimbulkan renjatan (shock) pada sirkulasi darah yang tergantung pula pada banyaknya darah yang terbuang.

Yesus harus memikul patibulum (salib kayu yang bobotnya sekitar 40-60 kg) di atas bahunya dan berjalan menelusuri jalan berbatu karang di kota Yerusalem menuju Golgotha, tempat dilakukannya penyaliban. Beliau terjatuh berulang kali. Seorang kepala prajurit (centurion) Roma menyuruh Simon untuk membantu memikulkan salib sampai ke Golgotha yang terletak sekitar 600 meter dari tempat itu. Kenyataan bahwa Yesus masih sanggup memikul salib walau sebagian jarak ke Golgotha meski dengan susah payah, menunjukkan kalau status sirkulasi darah di tubuh beliau setelah pencambukan itu masih cukup baik karena orang yang mengalami shock sirkulasi darah tidak akan mampu membawa beban tubuhnya di atas kakinya sendiri. Penyaliban terjadi sekitar tengah hari dan penampakan kematian Yesus terjadi seketika sekitar jam 15:00. Yesus berada di atas salib hanya sekitar 3-6 jam saja sedangkan tujuan hukuman dengan salib adalah untuk menimbulkan kematian yang lambat yang biasanya berlangsung sampai tiga atau empat hari lamanya.

Masa bertahan menderita di atas kayu salib bervariasi menurut kondisi nutrisi hari-hari si korban, jumlah darah yang telah tumpah dan banyaknya cairan tubuh yang hilang, kondisi cuaca serta usia si korban. Menurut Barbet, durasi tersebut biasanya antara 24 sampai 36 jam (4). Seorang yang berusia 33 tahun dan memiliki phisik yang kuat, tidak mungkin mati dalam jangka waktu demikian singkat. Yang pasti beliau kehilangan kesadaran, diturunkan dari kayu salib, kemudian mendapat pengobatan atas luka-lukanya dengan ramuan (yang kemudian dikenal sebagai balsam Isa).

Menurut salah satu teori, Nabi Isa a.s. wafat karena tercekik atau sesak nafas (asphyxia = kehabisan udara). Teori asfiksiasi ini menyatakan bahwa bobot tubuh yang menarik ke bawah lengan-lengan yang terentang akan menimbulkan jaringan otot intercostal (jaringan otot di antara tulang-tulang rusuk) menjadi tertarik sampai ke limitnya sehingga menghalangi ekshalasi udara dari paru-paru. Untuk bisa melakukan ekshalasi udara secara sempurna, Yesus harus mendorong tubuhnya ke atas bertumpu pada paku yang terhunjam di kaki beliau, agar jaringan otot dinding rongga dada bisa mengendur. Kebiasaan yang berlaku untuk meremukkan tulang kaki (femur) dengan batang besi berat akan mencegah si korban bisa mengangkat dirinya ke atas, dengan akibat cepat munculnya asfiksiasi. Ritual meremukkan kaki ini biasanya dilakukan saat si korban sudah sangat kelelahan atau telah dekat kematiannya.

Hanya saja Zugibe telah membuktikan secara konklusif bahwa teori asfiksiasi bisa dibenarkan kalau saja tangan-tangan si korban terikat di atas kepalanya, dan tidak akan terjadi jika lengannya itu terentang dengan sudut derajat 65-70 terhadap palangan salib sebagaimana halnya yang terjadi pada Yesus. Ia ini telah melakukan uji coba tentang telaah eksperimental penyaliban dengan menggunakan tenaga sukarelawan (5). Ia mensuspensi beberapa orang muda yang sehat berumur antara 20 sampai 35 tahun di atas sebuah salib dengan menggunakan belenggu kulit untuk pergelangan tangan dan bilah kulit untuk penahan kaki. Periode suspensi itu berlangsung antara lima sampai empatpuluh lima menit. Timbul cara pernafasan dengan menggunakan rongga perut dan setelah empat menit, tingkat respiratori meningkat empat kali. Ia mencatat beberapa gejala lain seperti berkeringat deras, tachycardia (jantung yang memburu), kedutan dan kejang otot serta perasaan panik. Namun yang menarik ialah tidak ada dari tenaga sukarela itu yang melaporkan kesulitan bernafas, baik menghirup (inhalasi) atau pun menghembus (ekshalasi). Saturasi oksigen dan pH arteri tetap tidak berubah sedangkan enzim jaringan meningkat. Lagi pula, rekonstruksi mengenai posisi di atas salib memastikan bahwa kaki-kaki beliau tidak diremukkan untuk mencegah yang bersangkutan mengangkat tubuhnya guna bernafas, mengingat juga tubuh itu sudah dalam posisi terangkat (6).

Analisis atas Kain Kafan dari Turin memastikan bahwa ada sebuah tubuh dari seorang yang disalib pernah terbaring dalam kafan tersebut dan orang itu mengalami penderitaan persis sama seperti yang dialami oleh Yesus. Temuan itu juga memastikan bahwa orang tersebut tidak mati di atas salib dan yang bersangkutan diturunkan dari salib untuk dimakamkan dalam keadaan masih hidup. Adanya duapuluh delapan bercak darah di Kain Kafan itu mendukung teori di atas. Para peneliti menyatakan bahwa mustahil sebuah tubuh yang telah mati untuk mengucurkan darah sebagaimana yang terjadi pada tubuh yang diselimuti Kafan tersebut. Analisis atas luka yang diakibatkan oleh tombak tentara Roma menunjukkan adanya dua lubang luka, satu di sisi kanan dada saat tombak mempenetrasi rongga dada dan luka satunya lagi di sisi kiri dada yang diakibatkan oleh ujung tombak yang keluar dari tubuh. Bila ditarik garis datar dari lubang masuk sampai ke lubang keluar maka terlihat kalau sudut derajat tombak saat menembus rongga dada adalah 29 derajat. Karena tombak itu menembus di antara rusuk ke lima dan ke enam maka garis lintas tombak itu lewat di atas jantung. Dengan demikian salah jika menyimpulkan bahwa darah dan air yang keluar dari luka diakibatkan oleh penetrasi bilik jantung. Lebih mungkin disebut sebagai efusi pleuri (pleura = membran pembungkus paru-paru) sekunder atau emboli kecil pulmonari yang menimbulkan koleksi hemorhegik. Aliran darah kedua dari luka sisi tersebut terjadi ketika tubuh diletakkan di suatu tempat yang horisontal dan ini mendukung pandangan bahwa yang terjadi adalah efusi pleuri karena keadaannya akan lain jika yang tertembus adalah jantung itu sendiri (7).

Beberapa faktor harus ada sebagai penyebab kematian pada korban karena penyaliban. Antara lain adalah kegagalan renal (ginjal) yang akut yang merupakan ikutan dari shock trauma, hipovolemia (berkurangnya plasma darah yang beredar) dan rhabdomyolysis, asidosis metabolisme (kehilangan alkali dan bertambahnya karbon dioksida) dan kemudian akibat dari penyaliban itu sendiri adalah asidosis respiratori (karena penimbunan karbon dioksida). Trauma luka dada akan menimbulkan atelektasis (paru-paru yang mengempis). Hanya saja keadaan hypercoagulable akibat dari dehidrasi dan rhabdomyolysis akan menimbulkan emboli pulmonari yang berulang. Keadaan ini beserta sejenis kegagalan jantung akibat asidosis akan menyebabkan efusi pleura. Berjuta-juta orang meyakini kalau Kain Kafan dari Turin sebagai kafan yang membalut tubuh Yesus setelah diturunkan dari salib.

Ada juga orang-orang yang menganggapnya sebagai barang palsu dan meragukan keasliannya. Namun mereka yang meragukan kain kafan ini sebagai suatu yang palsu dan mengatakan bahwa bercak yang terdapat pada Kafan itu sebagai hasil karya seorang seniman, tetap saja tidak mampu menjelaskan mengapa Kafan itu bisa menerakan imaji negatif di permukaannya. Tanda-tanda yang ditinggalkan oleh mahkota duri, darah semi koagulasi di tengah dada, banyaknya luka karena lecutan cemeti, lubang akibat paku di tangan dan di kaki serta gambaran masih utuhnya kaki sang korban disamping terdapatnya fosil serbuk sari dari sebelas jenis tumbuhan dimana enam di antaranya diidentifikasikan telah punah saat kini tetapi diketahui pernah tumbuh di Palestina 2000 tahun yang lalu, semua itu menjadikan ragu kalau imaji di Kafan tersebut buatan manusia dan bahwa sosok yang dibungkusnya adalah lain dari Nabi Isa a.s. Adalah suatu hal yang menarik bahwa jasad Yesus dibawa ke sebuah makam milik Yusuf dari Arimathea dan bahwa sejalan dengan kebiasaan bangsa Yahudi di masa itu, makam demikian tidak berisi tanah. Ada sebuah batu besar yang menjadi penutupnya. Pada hari Minggu, umat Yahudi bebas bisa mengunjungi tempat dimana Yesus diistirahatkan. Tetapi pagi hari sekali ketika masih gelap, Yesus sudah tidak berada di sana. Tak lama kemudian, beliau terlihat oleh Maryam yang tadinya mengira kalau beliau adalah tukang kebun(8). Kemudian setelah itu Nabi Isa a.s. berbicara kepada para murid, bepergian ke Galilea, makan roti dan ikan, menunjukkan jejas luka di tubuhnya kepada para pengikut beliau dan meloloskan diri secara rahasia dari daerah yurisdiksi Pilatus (9). Kepada para murid yang mengira beliau adalah hantu, beliau mengatakan:

‘Lihatlah tanganku dan kakiku, aku sendirilah ini, rabalah aku dan lihatlah karena hantu tidak ada daging dan tulangnya seperti yang kamu lihat padaku.’ (10)

Setelah selamat dari hukuman salib, Nabi Isa a.s. merupakan orang hukuman atau buronan sehingga beliau harus menghilang dari Palestina. Beliau setelah peristiwa itu ada beberapa kali bertemu dengan para murid untuk menjelaskan tentang bagaimana menyebarkan ajarannya, setelah mana beliau kemudian berjalan ke arah Timur. Jika benar Yesus wafat di atas salib maka beliau telah gagal dalam melaksanakan tugas yang telah diembankan kepadanya untuk menyelamatkan suku bangsa Israil yang hilang.

Rujukan:
(1) Yohanes 19:12
(2) Yohanes 19:32
(3) Markus 15:44
(4) Barbet P., A Doctor at Calvary, diterjemahkan oleh Earl of Wicklow, P.J.Kennedy and Sons, New York, 1953, h. 41174
(5) Zugibe F. T., Death by Crucifixion, Can. Soc. Forens. Sci. J. 1984, 17:113
(6) Hans N., Anthropological Observations on the Skeletal Remains from Giv’ at HaMivtar, dalam Discoveries and Studies of Jerusalem, Israel Exploration J. 1970; 20 (12): 3859
(7) Johnson C. D., Medical and Cardiological Aspects of the Passion and Crucifixion of Jesus the Christ, Bol. Assoc. Med. P. Rico, 1978, 70:97102.
(8) Yohanes 20:15
(9) Matius 28:7
(10) Lukas 24:39

Minggu, 17 Februari 2013

Hubungan Umat Islam dengan Pengikut Agama lain


Hal yang seringkali menjadi ganjalan dari non-Muslim adalah terhadap Islam adalah Umat Islam tidak memperlihatkan wajah bersahabat dan malah memusuhi non muslim. Benarkah demikian? Tentu hal itu tidak benar, kalaupun ada beberapa kasus yang memperlihatkan adannya pertikaian atau rasa tak bersahabat dari Umat Islam maka hal itu dilakukan oknum individu Muslim, dan tidak dapat menunjukkan bahwa itulah Islam yang sebenarnya.

Al-Qur'an memberikan pedoman yang cukup mengenai hal ini.

“Katakanlah, “Hai Ahli-kitab, marilah kepada satu kalimat yang sama di antara kami dan kamu, bahwa kita tidak menyembah kecuali kepada Allah swt., dan tidak pula kita mempersekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, dan [a] sebagian yang lain sebagai Tuhan selalin Allah swt..” Tetapi, jika mereka berpaling, maka katakanlah, “Jadilah saksi bahwa kami orang-orang yang menyerahkan diri kepada Tuhan” ” (Q.S 3:64

Ini adalah semangat kerjasama yang Islam telah tanamkan antara kalangan umat Islam untuk mengundang pengikut agama lain secara bersama-sama atas dasar umum untuk bekerjasama dalam upaya mencapai saling menghormati dan menghargai.

Pada subyek yang sama, Alquran menyatakan lebih lanjut:

“Dan, tolong-menolonglah kamu dalam kebaikan dan takwa; dan janganlah kamu tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan. Dan bertakwalah kepada Allah; sesungguhnya Allah sangat keras hukuman-Nya.” (Q.S 5:2)
Perlu dicatat disini bahwa Islam tidak menyebutkan ajakan kerjasama ini dengan mempertimbangkan agama tertentu saja. Ajakan apa saja yang ditujukan kepada Islam berupa perbuatan baik untuk tujuan mulia, Alquran mengatakan bahwa anda harus selalu menerimanya. Ajakan tersebut mungkin dari Yahudi, seorang Kristen, seorang Hindu, Budha atau penganut agama apapun atau bahkan dari seorang atheis; Islam mewajibkan kaum muslimin untuk maju dan bekerjasama. Mereka hanya harus melihat alasan mengapa mereka diundang, bukan melihat siapa yang mengundang untuk melakukan hal tersebut.

Islam telah memberikan prinsip emas yang dapat diikuti dan bermanfaat bagi seluruh umat manusia. Islam mengajarkan bahwa segala urusan harus didasarkan pada keadilan.

Alquran menyatakan:

Hai orang-orang yang beriman, hendaklah kamu berdiri teguh karena Allah, menjadi saksi dengan adil; dan janganlah kebencian sesuatu kaum mendorong kamu bertindak tidak adil. Berlakulah adil; itu lebih dekat kepada takwa. Dan bertakwalah kepada Allah swt. Sesungguhnya, Allah swt. Maha Mengetahui apa-apa yang kamu kerjakan.” (Q.S 5:8)
Ini membuat hal yang sangat jelas bahwa Islam memerintahkan pengikut sejatinya, kendatipun dengan musuh sekalipun mereka harus selalu bersikap adil. Apakah mungkin agama yang mengajarkan ajaran kerukunan dan kerjasama yang indah ini – bisa mendorong kekerasan atau kebencian terhadap orang lain?

Dari sini kita dapat mengambil kesimpulan, bahwa jauh dari rasa permusuhan dan kebencian terhadap non muslim, Islam mengajarkan cinta, kasih sayang dan kebajikan yang bersifat universal, karena Islam adalah rahmat bagi sekalian alam, maka rasa kebencian dan permusuhan itu dengan sendirinya tentu merupakan ganjalan bagi semangat rahmatan lil alamin tersebut. Bagaimana rahmat itu akan tercapai kalau umat Islam membatasi rahmat itu sendiri, nir non Muslim.

Sumber: ARtikel Islam: Menjawab Beberapa Keberatan Tentang Islam


Senin, 04 Februari 2013

Islam Tentang Kesehatan dan Kebersihan

Oleh: Dr. A. S. K. Ghauri - U. K.

islam dan kesehatanArti kata Islam secara harfiah adalah ‘Kedamaian’ dimana hal ini menjadi tujuan utama bagi semua penganut Islam yang disebut sebagai umat Muslim. Islam adalah satu-satunya agama yang memberikan petunjuk yang lengkap dan jelas tentang cara bagaimana mencapai kedamaian dan keselerasan dalam kehidupan kita dan semua itu termaktub dalam kalimat-kalimat bahasa Arab yang tidak pernah berubah dan dikenal sebagai kitab Al-Quran.

Ajaibnya selama 1400 tahun terakhir ini semua penemuan-penemuan ilmiah telah menjadikan Al-Quran lebih mudah dipahami dan tidak ada kontradiksi di dalamnya. Gereja Kristen di masa Renaissance berkutat dengan konsep bahwa bumi ini sebenarnya kecil sekali dan merupakan bagian tidak berarti dari keseluruhan alam semesta, sedangkan Islam dan Al-Quran sudah menjelaskannya 1000 tahun sebelumnya. Tidak ada peristiwa dalam sejarah Islam dimana ilmu pengetahuan tidak lebih mencemerlangkan ajaran Al-Quran. Kita bisa melihat profesi kita sendiri dan mencari petunjuk dari Islam untuk mencapai kedamaian dan keselarasan dalam rutinitas kita setiap hari.

Dalam profesi saya sebagai seorang dokter, saya telah mempelajari bagaimana semua jaringan dan organ tubuh manusia bekerja dalam suatu harmoni terkendali dalam upaya mencapai keselesaan dan kedamaian. Bentuk kedamaian internal atau kesehatan ini juga yang menjadi sasaran mendasar dalam agama Islam. Bukan bentuk kedamaian sosial, ekonomi atau politis, tetapi kedamaian phisikal.

Sebagai seorang dokter, yang juga menyedihkan adalah saya juga harus menyaksikan adanya kesakitan, penderitaan dan kematian berulang kali. Penderitaan merupakan bagian yang harus ada untuk kehidupan di muka bumi. Tanpa adanya penderitaan maka tidak akan ada motivasi yang akan mendorong manusia menggapai perbaikan spiritual mau pun ilmiah yang pada akhirnya akan mendekatkan manusia kepada Tuhan. Hanya saja banyak sekali dari penderitaan yang saya saksikan di rumah-rumah sakit sepertinya ditimbulkan oleh diri pasien sendiri dan karena itu muncul pertanyaan: “Apakah ada tuntunan di dalam Al-Quran yang bisa memperbaiki kesehatan atau kedamaian phisikal kita dalam bentuk pemahaman ilmiah modern?”

Saya akan membahas filsafat dari beberapa ajaran Islam, khususnya yang berkaitan dengan daging babi, minuman alkohol, kebiasaan makan dan kebersihan. Pada akhirnya sains modern secara berangsur dan dengan berjalannya waktu untuk mengembangkan pemahaman, mengakui kebenaran pengaturan cara makan dan pembatasan yang diberikan Islam meski pun pada awalnya menganggap prinsip-prinsip itu sebagai tidak berdasar dan hanya sebagai mengekang saja.

Al-Quran menyatakan:

‘Diharamkan bagimu daging hewan yang mati dengan sendirinya dan darah dan daging babi dan hewan yang disembelih dengan menyebut nama yang lain dari Allah . . . tetapi barangsiapa terpaksa memakan sesuatu yang haram karena kelaparan dan bukan sengaja cenderung kepada dosa, maka ketahuilah bahwa Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.’ (S.5 al-Maidah:4)

Yang menarik ialah Injil juga menyatakan:

‘Demikian juga babi karena memang berkuku belah yaitu kukunya bersela panjang, tidak memamah biak; haram itu bagimu. Daging binatang-binatang itu janganlah kamu makan dan bangkainya janganlah kamu sentuh; haram semuanya itu bagimu.’ (Imamat 11:7-8)

Filsafat ajaran Islam mengemukakan gagasan bahwa makan suatu jenis makanan mempunyai dua pengaruh. Yang pertama mempengaruhi tubuh dan yang kedua mempengaruhi jiwa. Karena itu jika kita makan hewan yang kotor maka juga akan ada pengaruh buruknya pada jasmani dan ruhani kita.

Pengaruh jasmaniah dari memakan daging babi antara lain adalah kejangkitan ‘virus influenza babi’ yang menimbulkan penyakit seperti flu umumnya, kejangkitan parasit seperti cacing pita yang bisa bertahan di saluran pencernaan gastrointestinal manusia dan mengakibatkan malnutrisi dan anemi. Daging babi juga mengandung kadar lemak yang luar biasa tinggi yang akan membawa penyakit tekanan darah tinggi serta tersumbatnya saluran-saluran darah oleh tumpukan lemak yang akhirnya menimbulkan serangan dan stroke jantung.

Pengaruh daging babi atas jiwa menurut filsafat Islamiah adalah menurunkan atau merusak nilai-nilai moral seperti kesucian diri, rasa malu, harga diri, kejujuran dan integritas. Pada umumnya orang sama berpendapat bahwa ‘apa yang anda makan adalah cerminan diri anda’ dimana dikemukakan contoh perbedaan kepribadian dari orang-orang yang biasa memakan daging dengan mereka yang hanya makan sayuran (vegetarian). Pemakan daging biasa digambarkan sebagai orang yang agresif dan kompetitif, sedangkan vegetarian umumnya lebih lembut dan lemah. Banyak dari gejala kejiwaan seperti apathi, depresi, mudah tersinggung dan uring-uringan seringkali terkait dengan kelebihan atau kekurangan vitamin yang dimakan. Pada dasarnya kita baru mulai memahami bahwa apa yang diajarkan Islam sejak awal ialah apa yang kita makan besar pengaruhnya atas diri kita dan bukan hanya sebagai material pertumbuhan dari tubuh jasmani semata karena ruhani dan kepribadian kita pun terpengaruh.

Karena Islam merupakan agama yang lengkap maka tidak ada batasan yang bersifat mutlak, sebagaimana juga dinyatakan Al-Quran:

‘. . . tetapi barangsiapa terpaksa memakan sesuatu yang haram karena kelaparan . . . maka ketahuilah bahwa Allah itu Maha Pengampun dan Maha Penyayang.’ (S.5 al-Maidah:4)

Dari sini bisa disimpulkan bahwa terkadang ada manfaat sesaat yang bisa diperoleh dari pelampauan batasan demi mencegah kelaparan dan kematian. Salah satu contohnya adalah penggunaan insulin babi guna pengobatan diabetes yang sudah menjadi cara pengobatan utama selama 20 tahun terakhir, walau sekarang secara berangsur telah digantikan oleh insulin manusia. Katup jantung babi masih dipakai untuk transplantasi jantung manusia ketika katup jantungnya telah melemah atau menyempit. Jadi kita lihat bahwa Islam tidaklah sekaku sebagaimana anggapan orang.

Kitab suci Al-Quran juga menyatakan bahwa ‘daging hewan yang mati dengan sendirinya’ tidak boleh dimakan. Pada intinya hal ini berarti bahwa kita dilarang memakan daging hewan yang mati karena penyakit atau sebab alamiah. Belum lama di negeri ini kita bisa melihat bagaimana karkas hewan yang dihancurkan, termasuk sumsum tulang belakangnya, yang dijadikan pakan ternak secara luas, ternyata telah menimbulkan penyakit sapi gila. Sayangnya penyakit ini bisa menular kepada manusia dengan akibat yang berat atau fatal, dimana semua itu hanya karena karkas hewan yang mati dan berpenyakitan telah dilumatkan dan dijadikan pakan hewan lainnya.

Selanjutnya tentang cara makan atau diet dimana  Rasulullah saw bersabda ‘Jika seseorang makan berkecukupan saja tidak sampai kenyang maka dalam dirinya akan terisi nur.’ Beliau juga mengemukakan berbagai manfaat jasmaniah dari laku puasa. Sekarang ini kita sudah memahami sepenuhnya bahwa makan berlebihan sama sekali tidak sehat. Demikian jelasnya tidak sehat laku demikian sehingga saya tidak akan menyia-nyiakan waktu anda dengan mengurut berbagai penyakit akibat berlebihan makan seperti macam-macam jenis penyakit pembuluh darah sampai pada gangguan psikologi dan emosional yang terkait dengan berat badan.

Kebersihan dan Pencegahan Penyakit

Secara ringkas saya akan beralih kepada masalah kebersihan dan pencegahan penyakit. Islam mengharuskan kita untuk berwudhu yang sifatnya membersihkan tangan, kepala dan kaki kita sebelum shalat, lima kali sehari dengan air yang mengalir. Semua ini menjadi bukti nyata bahwa dengan cara ini bisa dihindari berbagai macam penyakit termasuk seperti penyakit gusi, infeksi kulit dan masalah kaki. Di masa lalu, banyak rumah sakit yang dikritik karena tidak menyediakan fasilitas membasuh tangan yang sederhana padahal cara ini dianggap bisa mengurangi infeksi rumah sakit lebih dari 60%. Dalam rumah-rumah sakit besar dan modern sekarang ini sepertinya kita baru menyadari bahwa membasuh tangan dengan air itu akan mengurangi penyebaran penyakit menular.

Saya juga akan menyinggung penyakit kejiwaan. Dalam agama Islam, peran dari nilai-nilai kekeluargaan dan pendidikan anak yang baik memperoleh penekanan secara khusus. Rasulullah saw bersabda bahwa ‘Bagi seorang ayah, tidak ada pemberian yang lebih berharga dari pendidikan bagus kepada anak-anaknya.’ Sekarang ini diakui betapa banyak masalah kesehatan kejiwaan dan kepribadian ganjil yang berawal pada masa kecil yang sulit, teraniaya atau terabaikan. Kekurangan di dalam pendidikan masa kanak-kanak mereka telah membekas pada relung-relung dari pikiran seorang anak yang kemudian menjadi dasar dari perilaku tidak normal di masa dewasanya. Semua itulah yang kemudian menjadi dasar dari psikoterapi modern, atau apa yang masih tersisa tentunya.

Berkaitan dengan alkohol, kitab suci Al-Quran menyatakan:

‘Mereka bertanya kepada engkau tentang arak dan judi. Katakanlah “Di dalam keduanya ada dosa dan kerugian besar dan juga beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa dan kerugiannya lebih besar dari manfaatnya. . .’ (S.2 Al-Baqarah:220)

Satu dari lima laki-laki yang masuk rumah-rumah sakit di Inggris mempunyai penyakit yang berkaitan dengan alkohol. Lima persen dari cedera kepala yang ada di ruang ‘Gawat Darurat’ berkaitan dengan alkohol. Alkohol menimbulkan masalah-masalah phisikal, sosial dan psikologikal. Saya pernah melihat pasien yang badannya bergetar hebat, halusinasi, berkeringat atau kejang-kejang akibat dari usaha menghentikan alkohol. Saya juga pernah melihat pasien lain dengan gejala depresi berat disamping juga mereka yang harus mengikuti program konsel keluarga untuk menjaga perkawinan mereka yang diakibatkan oleh aniaya phisikal di bawah pengaruh alkohol. Semua itu baru aspek psikologis dari penyakit yang terkait dengan alkohol.

Beralih ke masalah jasmaniah, saya melihat banyak pasien yang masuk ruang bedah dengan pendarahan lambung yang parah, muntah darah dari mulut dan buang air darah, karena penyakit yang sepenuhnya diakibatkan kerusakan oleh alkohol. Yang juga rusak karena alkohol adalah otak, hati dan pankreas.

Islam mengakui juga bahwa alkohol memang ada kegunaannya dan kita juga bisa melihat banyak obat-obatan homeopati atau pun allopati yang menggunakan alkohol sebagai pelarut, namun secara keseluruhan penggunaannya tidak dianjurkan. Islam mengedepankan kedamaian sosial, sedangkan dalam alkohol orang menemukan kelepasan semu yang bersifat sementara dari realitas dan tanggungjawab kehidupan. Kalau orang sampai tidak bisa bicara atau makan tanpa bantuan alkohol maka masyarakat bersangkutan akan runtuh. Angka kejahatan akan menjulang karena sekarang ini banyak dari laku kriminal yang terkait dengan alkohol. Sebuah pepatah Cina menyatakan ‘Mula-mula manusia mengambil minuman, lalu minuman akan mengambil minuman dan akhirnya minuman yang mengambil manusia.’

Rasulullah saw bersabda ‘Tidak ada penyakit yang tidak disediakan obatnya oleh Tuhan.’ Di masa kini kita menyadari bahwa banyak dari obat-obatan yang berasal dari tanaman seperti misalnya antibiotika penisilin yang berasal dari sejenis jamur bernama Penicillium yang tumbuh pada buah dan roti yang membusuk, serta stimulan hati digoxin yang berasal ekstraksi daun kering tanaman foxglove (digitalis purpurea).

Dalam usaha mencapai kedamaian jasmani dan kesehatan, Islam telah banyak memberikan petunjuk, sebagian sudah kita ketahui, sebagian sedang terungkap dan yang lainnya akan diketahui nanti. Semoga saya telah berhasil memberikan alasan-alasan mengenai pembatasan yang diberikan Islam sepanjang yang saya ketahui berkaitan dengan masalah kesehatan namun saya ingin menyudahinya dengan menekankan bahwa manusia sesungguhnya terbatas dalam segala hal, termasuk pengetahuannya dan tidak bisa memuaskan semua keinginannya dengan sarana materialistis yang tersedia, untuk mana perlu baginya menyubal atau menunjangnya dengan doa.



Islam - Kebersihan dan Kesehatan Jasmani dan Ruhani
Rabu Maret 22, 2006 - Oleh: Dr. A. S. K. Ghauri - U. K.
Penterjemah : A.Q.Khalid

Paparan tersebut adalah pidato Dr. Sabur Ghauri pada pertemuan bulanan Jemaat di Hartlepool pada tanggal 8 Juli 2001

Kamis, 14 Juni 2012

Menyebarkan Islam Damai itu tidak gampang!

Hilary Caton : Sat Jun 02 2012

Menyebarkan islam damai
Menyebarkan Islam Damai itu tidak gampang!

Hujan dan angin kencang tak menyurutkan para anggota Majelis Khuddamul Ahmadiyah (organisasi pemuda Ahmadiyah) untuk mengunjungi Stoney Creek, Jumat, dalam upaya menghilangkan prasangka dan kesalahpahaman tentang Islam.

"Orang harus menilai Islam, atau agama lainnya, pada ajaran mereka, bukan pada apa yang dilakukan oleh orang-orang." kata Usman Javed, salah satu dari lima relawan yang mendatangi masyarakat dari pintu ke pintu.

Tafsir Alquran tentang Gunung Bergerak seperti Awan

Apakah Gunung Bergerak Seperti Awan? Ungkapan Ajaib Al-Quran Tentang Gunung-gunung

Oleh: Dr. Mian M. Abbas - Alabama, USA
Alih bahasa: A.Q. Khalid

Alquran tentang gunung-gunung
Dalam kitab suci Al-Quran banyak referensi mengenai gunung-gunung dengan deskripsi yang bersifat grafis tentang fitrat dan manfaatnya bagi kehidupan manusia. Tujuan artikel ini adalah untuk mengemukakan telaah singkat atas beberapa ayat tentang gunung-gunung dikaitkan dengan hasil investigasi ilmiah masa kini tentang asal mula dan pembentukannya. Mengingat topik ini secara langsung terkait dengan penafsiran dari ayat-ayat Al-Quran tentang penciptaan alam semesta serta phenomena alamiah secara umum, maka kami akan memulainya dari masalah konformitas ayat-ayat Al-Quran dengan pengetahuan ilmiah.

Al-Quran Dan Ilmu Pengetahuan

Al-Quran menyebut dirinya sebagai buku yang membawa petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa sebagaimana diwahyukan kepada Rasulullah Muhammad saw lebih dari 1400 tahun yang lalu. Kitab ini mengemukakan ajarannya secara rasional dan filosofis agar tercipta keimanan yang teguh pada eksistensi Tuhan dan segala Fitrat-Nya:

‘Inilah kitab yang sempurna, tiada keraguan di dalamnya, petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa.’ (S.2 Al-Baqarah:3)
Kitab ini mengakui superioritas atau kelebihan dari mereka yang berpengetahuan di atas mereka yang tidak berpengetahuan (S.39 Az-Zumar:10) dan mengajak manusia agar merenungi phenomena alam yang luas di sekitar kita sebagai bukti tentang eksistensi sang Maha Pencipta dan Maha Pemelihara. Ada 750 ayat dalam kitab ini menyuruh pembacanya untuk merenungi dan meneliti phenomena alam di sekeliling kita dalam berbagai bidang pengetahuan termasuk astronomi, kosmologi, fisika dan biologi. Dinyatakan Al-Quran bahwa:
‘Dalam kejadian seluruh langit dan bumi dan pertukaran malam dan siang sesungguhnya ada tanda-tanda bagi orang yang berakal.’ (S.3 Ali Imran:191)
Salah satu dari premis dasar dalam ajaran Al-Quran adalah tentang telaah mendalam mengenai hakikat bumi, benda-benda langit, asal mula alam semesta serta asal mula kehidupan, dimana semua itu menggiring manusia kepada pembuktian melimpah akan eksistensi Tuhan. Tambah mendalam seseorang mempelajari proses penciptaan dan phenomena alamiah di alam semesta, tambah banyak alasan dan pembuktian yang mendukung keyakinan pada eksistensi Tuhan dan segala Fitrat-Nya. Asumsi dasar yang digunakan ialah tidak ada konflik atau pertentangan di antara temuan kita mengenai hukum alam atau ilmu pengetahuan, dengan wahyu Ilahi atau ajaran dan deskripsi Al-Quran mengenai phenomena alam.

Sambil mendorong pembacanya untuk merenungi ciptaan Tuhan berupa alam semesta dan segala sesuatu yang berada di dalamnya, kitab suci Al-Quran memberikan deskripsi grafis dan wacana tentang penciptaan bumi, benda-benda langit serta keragaman phenomena alam. Sebagian dari ayat-ayat itu bisa ditafsirkan secara harfiah, sedangkan yang lainnya harus ditafsirkan secara metaforika berkenaan dengan keruhanian atau nubuatan masa depan. Seringkali ayat-ayat Al-Quran ini bisa ditafsirkan secara harfiah dan sekaligus juga secara ruhaniah. Jika mengutarakan topik yang tidak terlaku dipahami atau pengetahuan manusia pada saat itu masih bersifat spekulatif, maka penafsiran harfiah hanya bisa diterima jika sejalan dengan tingkat pengetahuan di tiap zaman. Dengan diperolehnya pengetahuan baru, penafsiran biasanya direvisi menurut wacana yang lebih mendalam tentang subyek bersangkutan.

Hanya saja jelas bahwa penafsiran Al-Quran tidak bisa dilakukan seenaknya saja. Petunjuk umum dan ketentuan cara penafsiran telah diatur oleh Al-Quran(1) sendiri dengan cara menentukan adanya dua kategori jenis ayat-ayat yaitu yang jelas dan bersifat desisif dalam maknanya, sedangkan bentuk ayat yang lainnya tidak bersifat definitif dan bisa ditafsirkan secara berbeda. Mengenai ini dinyatakan:
‘Dia-lah yang menurunkan Al-Kitab kepada engkau, di dalamnya ada ayat-ayat yang muhkamat (bersifat desisif), itulah dasar-dasar Al-Kitab dan yang lain adalah ayat mutasyabihat (alegoris). . .’ (S.3 Ali Imran:8)
Ayat-ayat yang bersifat alegoris masuk dalam kategori kedua dan biasanya menyangkut analogi keruhanian atau bisa jadi nubuatan yang bentuk dan saatnya masih belum jelas. Petunjuk umum yang diberikan Al-Quran untuk menafsirkan ayat-ayat yang tidak desisif atau bisa ditafsirkan bermacam-macam demikian, ialah maknanya harus dikoroborasikan atau didukung oleh ayat-ayat yang desisif serta tidak bertentangan dengan ayat-ayat lain dalam Al-Quran. Kitab suci ini menjadi penafsir dan penterjemah dirinya sendiri.

Ayat-ayat Al-Quran Tentang Hakikat Gunung-gunung

Tujuan artikel singkat ini adalah untuk membahas beberapa ayat dalam Al-Quran yang berkaitan dengan hakikat dari gunung-gunung, terkait dengan hasil temuan ilmiah terkini tentang asal mula dan evolusinya. Dalam Al-Quran banyak referensi tentang hakikat dan kegunaan gunung-gunung, khususnya ayat-ayat berikut di bawah ini yang mengandung deskripsi grafis dan adanya berbagai penafsiran berbeda tentang hal itu.
‘Dan Dia telah menegakkan di bumi gunung-gunung, supaya jangan sampai berguncang bersama kamu dan sungai-sungai serta jalan-jalan, supaya kamu dapat menemukan jalan ke tempat yang dituju.’ (S.16 An-Nahl:16)
‘Tidakkah Kami telah menjadikan bumi ini sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?’ (S.78 An-Naba:8)
‘Dan apabila gunung-gunung digerakkan.’ (S.81 At-Takwir:4)
‘Dan Kami telah membentangkan bumi ini dan Kami tegakkan gunung-gunung yang kokoh di dalamnya dan juga Kami tumbuhkan di dalamnya segala sesuatu dengan perimbangan yang tepat.’ (S.15 Al-Hijr:20)
 ‘Dan Dia menetapkan di dalamnya gunung-gunung yang menjulang di atas permukaannya dan memberkatinya dengan berlimpah-limpah dan Dia menyediakan di dalamnya kadar makanan-makanan dalam empat periode sama rata bagi semua pencahari.’ (S.41 Ha Mim Sajdah:11)
 ‘Dan engkau melihat gunung-gunung yang engkau anggap terpancang kokoh kuat, berlalu bagaikan berlalunya awan. Itulah karya Allah yang telah menjadikan segala sesuatu sempurna. . .’ (S.27 An-Naml:89)
Ayat-ayat Al-Quran di atas bisa ditafsirkan menurut pengertian ruhaniah dimana makna dari gunung-gunung adalah kekuatan duniawi atau pribadi-pribadi ruhaniah yang akbar seperti para rasul Tuhan dan karena itu merupakan nubuatan yang sebagian sudah mewujud dan yang lainnya akan merupa pada saatnya. Penafsiran phisikal juga ada diberikan berkaitan dengan pandangan ilmu pengetahuan di suatu masa serta sudah dibahas secara rinci dalam beberapa tafsir akbar Al-Quran(2 – 4).

Dalam artikel ini kami akan memfokus pada ruang lingkup tafsir phisikal atau harfiah dikaitkan dengan tingkat ilmu pengetahuan di masa kini. Telaah mendalam serta renungan atas ayat-ayat di atas membawa kita kepada konsep umum Al-Quran tentang gunung-gunung yang telah diwahyukan lebih dari 1400 tahun yang lalu, yaitu:
  1. Permukaan bumi dimana kita hidup selalu terpengaruh oleh gerakan yang ada di bawah kita.
  2. Gunung-gunung berperan sebagai pasak bumi atau pancang yang menahan gerakan benda.
  3. Formasi dan eksistensi dari gunung-gunung mempunyai peran dalam terciptanya jalan-jalan, sungai-sungai, air minum, makanan manusia dan sarana kebutuhan eksistensi mahluk hidup lainnya.
  4. Gunung-gunung di mata kita terlihat stasioner dan terhunjam teguh di permukaan bumi, padahal mereka sebenarnya bergerak dan gerakan mereka itu mirip dengan awan.
Tinjauan Al-Quran seperti yang digariskan di atas, khususnya ayat surah An-Naml:89, kelihatannya seperti bertentangan dengan pandangan umum tentang kekakuan atau rigiditas bumi dan gunung-gunungnya dan telah menjadi suatu hal yang menyulitkan bagi para juru tafsir di masa lalu. Namun dalam beberapa dasawarsa terakhir banyak sekali informasi yang telah terungkap tentang formasi, struktur, sejarah geologis dan proses internal daripada bumi. Bumi sekarang ini tidak lagi dipandang sebagai suatu wujud badan yang solid dan rigid lagi, tetapi sebagai planet yang dinamis, hidup dan selalu berubah. Akibat dari itu adalah munculnya bidang studi yang disebut plate tectonics (tektonika lempengan bumi). Temuan di bidang studi ini nyatanya sejalan dengan subyek Al-Quran yang kita bahas di atas dan kami akan mengulas dasar-dasar sifat teori tersebut yang sekarang sudah sama diterima oleh komunitas ilmu pengetahuan. Meski telah diusahakan untuk menyederhanakan ulasan ini, pembaca yang tidak tertarik pada rincian ilmiah bisa langsung beralih ke topik berikutnya.

Plate tectonics

Suatu hal yang tadinya tidak masuk akal dikemukakan sekitar tiga abad yang lalu bahwa massa daratan raksasa seperti Asia, Eropah dan Amerika nyatanya tidak terpancang teguh di permukaan bumi dan sebenarnya bergerak ke beberapa arah. Tetapi baru pada tahun 1912, seorang ilmuwan Jerman bernama Alfred Wegener mempublikasikan pandangannya yang kontroversial tentang pergeseran benua dimana menurutnya 300 juta tahun yang lalu semua benua-benua besar sebenarnya bersatu dalam satu massa daratan, yang kemudian bergeser menjauh satu sama lain. Satu-satunya bukti yang signifikan dari pandangannya pada saat itu adalah pencocokan jigsaw dari struktur-struktur geologis massa daratan benua-benua yang berbatasan serta persamaan tanaman dan kehidupan hewannya. Selama masa hayatnya, teorinya ini dianggap sebagai suatu yang absurd dan baru pada tahun 1960-an mendapat perhatian serius orang. Melalui investigasi yang melibatkan beberapa disiplin keilmuan, termasuk observasi satelit angkasa, muncullah bidang studi baru yang disebut plate tectonics tersebut. Rangkuman dari sifat-sifat dasar teori tersebut dan pengetahuan yang dimiliki manusia sekarang ini tentang proses geologis bumi akan dirinci di bawah ini. Deskripsi yang lebih rinci bisa dilihat dalam referensi(5 – 8).

1. Bagian dalam bumi terdiri dari dua inti dalam dan luar berbentuk besi dan nikel cair dengan temperatur 5500o. Daerah ini dikitari oleh bagian yang lebih dingin dan lebih tebal dari bahan bebatuan dengan ketebalan 3000 kilometer yang disebut sebagai mantel bumi. Daerah paling luar adalah bagian tipis yang disebut sebagai kerak bumi. Bagian ini mengapung di atas mantel laiknya rakit di atas air danau. Kerak ini terdiri dari kerak benua (continental crust) di atas mana kita hidup, sifatnya ringan dan tebalnya sekitar 100 kilometer, sedangkan yang lainnya adalah kerak samudra (oceanic crust) yang terdiri dari material bebatuan yang lebih padat dan berada di bawah lautan.

2. Kerak bumi terdiri 12 lempengan seperti Eurasia, Afrika dan Amerika yang mengambang di atas mantel dalam. Lempengan tersebut terdorong bergerak dalam suatu pola lingkaran yang kompleks, dimana ada lempengan yang bergerak mendekat, ada yang bergerak menjauh dan ada pula yang saling menggeser dengan lempengan lain. Meski kecepatan gerak lempengan itu terlalu kecil untuk bisa dilihat mata karena hanya beberapa sentimeter per tahunnya, tetapi dalam jangka waktu ratusan juta tahun maka jaraknya menjadi amat besar seperti yang kita jumpai antar benua sekarang ini.

3. Jika dua lempengan benua bergerak tepung satu sama lain maka bahan yang terdapat di tepian lempengan akan naik mencuat permukaannya dimana terciptalah gunung-gunung pada saat itu. Adapun lempengan samudra bila mendekat atau bergerak menjauh satu sama lain, akan mencipta palung-palung di dasar samudra. Dengan demikian gunung-gunung nyatanya mewujud akibat dari gerakan dan benturan lempengan benua. Lempengan India terlepas dari lempengan Afrika sekitar 200 juta tahun yang lalu dan kemudian bertumburan dengan lempengan Eurasia dengan akibat terbentuknya dataran tinggi pegunungan Himalaya yang besar itu. Lempengan benua raksasa ini masih tetap bergerak dan karena itu pegunungan Himalaya masih terus bertambah tinggi sampai dengan hari ini.

4. Apa yang menjadi hakikat dari daya yang menggerakkan lempengan tektonik raksasa itu masih belum dipahami sepenuhnya dan masih terus diteliti secara intensif. Namun pada umumnya disepakati bahwa daya gerak itu muncul dari proses konfeksi dan sirkulasi bahan mantel yang terdorong dari inti bumi yang panas. Prosesnya mirip dengan air panas di dalam teko yang dipanasi dari bawah. Meski terlihat ajaib, sebenarnya kaidah fisika dan proses dasar yang terdapat dalam sirkulasi mantel di dalam bumi adalah sama dengan sirkulasi udara di atmosfir yang naik di daerah tropis dan turun di daerah bujur yang lebih dingin. Proses itu juga yang membentuk awan-awan di atmosfir bumi.

5. Bagian dalam bumi selama ini berubah terus menerus, dan merupakan media yang hidup dan dinamis sejak mewujudnya sekitar 4,6 milyar tahun yang lalu. Gerak dari lempengan tektonik mengarah pada pembentukan atau penghancuran dari massa daratan, gunung-gunung di permukaan bumi serta palungan di dasar samudra. Tanpa adanya gerakan dari lempengan tektonik maka massa daratan beserta semua gunung-gunungnya sudah lama sirna sejak dulu akibat dari proses erosi yang berkelanjutan. Seluruh bumi tentunya sudah tertutup oleh lautan. Mahluk daratan dan kehidupan manusia seperti yang sekarang ada di muka bumi yang memiliki sungai, air minum, sumber makanan dan kebutuhan lain bagi eksistensi manusia, jadinya tidak mungkin tanpa adanya gerakan dari lempengan tektonik serta keberadaan gunung-gunung.

Apakah konsep dan proses luar biasa yang diuraikan di atas itu hanyalah reka-rekaan berdasar suatu teori baru yang masih harus diuji? Apakah kita memiliki bukti telaah yang cukup untuk membenarkan ide yang revolusioner demikian? Jawaban singkatnya adalah sekarang ini banyak bukti meyakinkan yang diperoleh dari berbagai bidang studi (seperti struktur geologi, magnetit, fosil-fosil, hayati tumbuhan dan hewan dan lain sebagainya) yang membuktikan bahwa teori lempengan tektonik itu memang benar adanya. Semua ini marak sekitar 50 tahun terakhir. Bukti yang paling persuasif diperoleh dari telaah langsung atas gerakan benua-benua melalui instrumen berbasis daratan dan yang dibawa satelit angkasa. Semua observasi yang dilakukan secara amat presisi itu mengindikasikan bahwa benua-benua bergerak satu sama lain. Benua Amerika Utara contohnya, bergerak menjauh dari Eropah sekitar 3 sentimeter setiap tahunnya. Meski gerakan itu sepertinya amat kecil, tetapi nyatanya telah mencipta samudra Atlantik dalam kurun waktu 300 juta tahun.

Wahyu Al-Quran Tentang Gunung-Gunung


Perbandingan dari pengetahuan manusia yang paling anyar tentang fitrat dari gunung-gunung berdasar bahan-bahan dasar lempengan tektonik seperti yang digariskan di atas, dengan deskripsi ayat-ayat Al-Quran tersebut, mengindikasikan adanya validasi yang mencengangkan dari ayat-ayat yang diwahyukan lebih dari 1400 tahun yang lalu. Disamping penafsiran metaforika, sekarang kita juga bisa meyakini bahwa deskripsi Al-Quran tentang gunung-gunung ternyata juga benar secara harfiah, meski di masa lalu sepertinya tidak masuk akal. Dari penelitian ilmiah, sekarang ini kita mengetahui bahwa:

  1. Walau pegunungan terlihat stasioner dengan massa yang demikian masif dan rigid, nyatanya mereka secara phisikal juga bergerak relatif terhadap benda-benda lain di permukaan bumi.
  2. Pegunungan mempunyai peran yang sama dengan pasak atau pancang di bumi guna menahan gerakan benda-benda lain, meski pasak itu sendiri atau gunung itu ikut bergerak.
  3. Proses phisikal yang menyebabkan gerakan dari gunung-gunung, ajaibnya mirip dengan proses pembentukan dan gerakan awan yaitu konfeksi dan sirkulasi massa udara di atmosfir bumi.
  4. Pembentukan atau formasi pegunungan menjurus pada eksistensi dari massa daratan, jalan-jalan dan bentuk sarana transportasi darat, disamping juga munculnya sungai-sungai dan air segar. Kehidupan manusia dan mahluk lainnya seperti yang kita lihat di muka bumi sekarang ini, tidak akan mungkin tanpa adanya proses yang menjurus pada pembentukan pegunungan.
Wahyu dan validasi dari rahasia-rahasia tersembunyi di alam serta pembentukan pegunungan sungguh merupakan suatu yang ajaib. Suatu deskripsi yang jelas dan grafis tentang hakikat pegunungan telah terbuka bagi para pembaca Al-Quran sejak lebih dari 1400 tahun yang lalu namun nyatanya baru belakangan ini tafsir ayat-ayatnya menjadi jelas benar. Dari sini kita bisa melihat bahwa ayat-ayat Al-Quran terus menerus mendapatkan validasinya di setiap zaman dengan adanya temuan dan pengetahuan baru, yang semuanya menjadi bukti guna memperkuat keimanan pada asal mulanya dari Ilahi.

Kami akhiri bahasan ini dengan dua ayat Al-Quran yang bersifat nubuatan tentang kedua aspek itu:
‘Sesungguhnya Kami-lah yang telah menurunkan peringatan ini dan sesungguhnya Kami-lah pemeliharanya.’ (S.15 Al-Hijr:10)
Ayat ini mengandung salah satu nubuatan luar biasa tentang Al-Quran, dimana pemenuhannya merupakan bukti berkelanjutan bahwa ia memang berasal dari Tuhan. Kitab ini selain mengungkapkan janji untuk menjaga kesucian ayat-ayat yang diwahyukan dari segala perubahan dan interpolasi, tetapi yang lebih penting lagi ialah validitas maknanya serta penafsirannya dengan berjalannya waktu. Bahwa teks phisikal Al-Quran secara kata demi kata adalah identik dengan Al-Quran yang diwahyukan di masa Rasulullah saw sudah sama diakui dan tidak bisa dipungkiri dari telaah-telaah ilmiah. Yang sekarang ini dipenuhi adalah janji pemeliharaan validitas penafsiran serta isi intelektualnya. Percepatan akumulasi kemajuan ilmu pengetahuan telah menjadi bukti yang menguatkan sumber Ilahiahnya, sejalan dengan pernyataan:
‘Maka tidakkah mereka ingin merenungkan Al-Quran? Dan andaikata Al-Quran ini dari wujud lain yang bukan Allah, niscaya mereka akan mendapati di dalamnya banyak pertentangan.’ (S.4 An-Nisa:83)

Referensi:

  1. Al-Quran: Surah dan ayat yang diberikan didasarkan pada penomoran mulai dari Bismillah. Terjemah disini dikutip dari Al-Quran dengan terjemahan dan tafsir singkat (1987), Jemaat Ahmadiyah Indonesia, ed. 2.
  2. Al-Quran dengan terjemahan dan tafsir singkat (1987), Jemaat Ahmadiyah Indonesia, ed. 2.
  3. Revelation, Rationality, Knowledge and Truth, Mirza Tahir Ahmad, Islam International Publ., London, 1998, h.307-311.
  4. The Bible, the Quran and Science, Maurice Bucaille, Dar Al Maarif, Mesir, 1977.
  5. This Dynamic Earth, W. Jacquelyne Kious & Robert I. Tilling, US Geological Survey Publ., Washington DC, 1999.
  6. The Dynamic Planet, W. G. Ernst, Columbia University Press, New York, 1990.
  7. Continents in Motion, W. Sullivan, McGraw-Hill, New York, 1991.
  8. Physical Geology, N. K. Coch & A. Ludman, MacMillan, New York, 1991.
Untuk pandangan alternatif, pembaca dipersilakan juga melihat Revelation, Rationality, Knowledge and Truth, karangan Mirza Tahir Ahmad, yang telah menjawab sejumlah pertanyaan tentang hal di atas dan beberapa subyek-subyek yang terkait sebagaimana telah kami kemukakan dalam beberapa terbitan majalah Review of the Religion di masa lalu.

Tentang pengarang:

Profesor Dr. Mian Abbas Ph.D. adalah seorang ilmuwan ruang angkasa atau astrophysicist di NASA Marchall Space Flight Centre di Alabama. Ia telah menulis sejumlah karangan dan hasil risetnya telah dipublikasikan dalam beberapa media jurnal pengetahuan dan tehnik.

Minggu, 08 April 2012

Pameran Alquran di Kanada Tentang Syariat Islam



Prasangka dapat dilihat sebagai bagian dari ketidaktahuan dan ketakutan.

Itu adalah keyakinan Meredith Swanson saat ia mengunjungi County Public Library di Paris pada Sabtu sore untuk mengajukan beberapa pertanyaan dan belajar tentang Agama Islam.

Asosiasi Pemuda Muslim Ahmadiyah Kanada kembali ke Paris pada Sabtu 24 Maret untuk menggelar pameran untuk umum tentang "Syariat, hukum Islam yang disalahpahami"

iklan

 

Copyright © ISLAM itu Indah. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com