Selasa, 04 Desember 2007

2000 Ribu Rupiah Penghalang Surga

Surga..banyak persyaratan, banyak usaha untuk mendapatkannya. Sebaliknya begitu banyak cara untuk luput darinya. Bahkan mungkin dengan uang 2000 rupiah. Bisa? wallahu a'lam!setidaknya tulisan ini bisa menjadi semacam gambaran bagi kita walaupun jauh dari memadai.


Berawal dari pertanyaan seorang teman kepada saya tentang permasalahan yang bisa dikatakan ringan tetapi kalau dianggap sepele bisa jadi berabe. Teman saya, sebut saja Nina bertanya melalui pesan singkat, Bahwa pada suatu hari dia dan temennya jajan Tekwan (Penganan yang biasa dijumpai di palembang) di sebuah tempat yang biasa mangkal di pinggir jalan, singkat kata setelah dibayar mereka pulang, tapi sesampai di rumah tersadar kalau kembalian uang dari penjual tadi berlebiiih 2000 rupiah, Teman saya nina pun bertanya sebagai bentuk kehati-hatiannya mungkin. Dia bertanya "bagaimana menurutmu? Kembaliin atau sedekahkan saja?" Begitulah kira-kira ceritanya.

Jawaban saya waktu itu adalah, “Pada dasarnya uang itu bukan milik kita, kalau menurut saya,,, walaupun saya belum tentu bisa melakukannya,yaa balikin saja.(kata-kata walaupun saya belum tentu melakukannya karena saya berpikir perjalanan untuk kembali tentu membutuhkan biaya yang bisa jadi ongkos balik bisa lebih besar daripada uang yang dikembalikan), yaa walaupun hal itu kecil, itulah akhlak mulia. Karena kita tak tahu amalan mana dan amalan yang seperti apa yang akan membawa kita kepada keridoan Allah, sebaliknya kita tak tahu amalan apa dan yang yang bagaimana yang ternyata begitu membuat Allah murka kepada kita”. Demikian saya tulis dalam reply pesan singkat juga.

Ga tau dia setuju atau tidak dengan apa yang saya tulis tetapi mengapa saya menulis seperti itu karena kebetulan saya teringat dengan sebuah syair bahasa urdu yang belum lama terbaca oleh saya. Syair itu berbunyi:

“Dari arah mana kiranya aku ini harus memasuki lorong-Mu??
Pengabdian yang bagaimanakah yang dengan itu Engkau bisa kudapatkan??”

Yang tersirat oleh pikiran saya dalam syair tersebut adalah bahwa untuk meraih Allah taala sama sekali kita tidak benar-benar tahu amalan yang mana dan bagaimana, apa yang kecil ataukah yang sebaliknya. Begitupun kita tidak tahu perbuatan buruk yang manakah yang dengan itu kita bisa dimasukkan kedalam neraka jahim, dosa kecil-kah atau yang besar-kah. Pikiran ini tersirat saat teringat oleh saya terhadap sebuah hadis yang menceritakan seorang ibu yang masuk surga hanya karena dia memberi minum seekor anjing yang sedang kahausan dengan mencidukkan terompahnya supaya terisi air yang dengann itu bisa diminum oleh anjing tersebut. Pikiran yang tersirat ini juga tak lepas juga dari ingatan saya terhadap tulisan yang juga belum lama saya baca, bahwa alkisah seseorang telah dituduh melakukan pembunuhan yang dia tidak pernah melakukannya. Dia berdoa kepada Allah, “Wahai Allah, berbuat adillah dan bebaskanlah saya dari hukuman itu, Engkau mengetahui bahwa ini merupakan tuduhan yang tidak benar terhadap diri saya.” Sebelumnya orang ini merupakan seorang saleh yang doa-doanya biasa terkabul kini doanya tidak diterima dan ia tetap dijatuhi hukuman gantung. Kemudian dia berdoa lagi kepada Allah, “Engkau adalah wujud Yang Maha Adil dari semua yang adil. Engkau mengetahui bahwa pada kasus kesalahan yang dituduhkan kepada saya sehingga dijatuhi hukuman itu, saya tidak pernah melakukannya”. Atas hal itu maka Allah memberitahukan kepadanya bahwa engkau sebenarnya telah meminta keadilan yang engkau dapatkan. Keadilan yang seperti apa.. memang hari ini engkau ditangkap karena suatu tuduhan palsu sehingga telah diputusakan hukuman mati kepadamu, tetapi dulu, engkau telah membunuh seekor hewan dengan cara yang penuh keaniayaan, maka hari ini engkau dihukum akibat perbuatan kamu itu".
untukk itulah saya menganggap bahwa memang benar setiap amal baik kita akan dipertimbangkan oleh Allah tetapi kembali lagi, amalan mana yang akan membuat Allah ridho kepada kita,tidaklah sepeennnuhnya kita tahu. Terrmasuk dalam kaitannya dengan cerita ini bahwa bahkan dalam 2000 rupiah yang dikembalikan oleh teman saya terssebut kita tidak tau mungkin saja akan mendatangkan berkah yang begitu mulia. dan sebaliknya dengan mengannggap remeh hal tersebut sebagai angin bisa lalu bisa jadi juga hal tersebut-lah yang bisa menggugurkan segala amalan-amalan besar kita yang telah terkumpul dalam 'tabungan amal' kita, bagai air jernih yang ternoda oleh setetes tinta.

Akhirnya temanku Nina kembali bertanya, “sebenarnya saya memang mau mengembalikan, karena saya ga mau hanya karena uang 2000 rupiah saya tidak bisa masuk surga”. Tertawa sekaligus tergugah diriku membaca pernyataan polos tetapi bermakna itu, balik ku bertanya dalam hati, menanykan ulang bagaimana mungkin hanya karena uang dua ribu rupiah seseorang jadi mahrum dari Surga Mulia. Tetapi sontak saya terpikir dan saya tuliskan juga sebagai balasannya, “Sebenarnya bukan masalah besar kecilnya Nin melainkan kesungguhan yang melatarinya, seberapa besar kesungguhan kita untuk mengharapkan keridhoan Allah dan seberapa besar pula keawasan kita dari hal-hal yang mengakibatkan Murka Allah, yang akan menggugurkan amal-amal baik kita walaupun sekecil apapun perbuatan itu.. Sekecil apapun amalan dalam pandangan kita jika itu didasari oleh kesungguhan yang besar untuk mendapatkan ridho Allah maka dimata Allah bisa jadi hal itu merupakan hal yang sangat berharga, seperti cerita seorang ibbbu masuk ssurga tadi. Sebaliknya sebesar apapun perbuatan baik kita dari segi kuntitas, jika tidak dilatari oleh kesungguhan sejati hal itu bisa menjadi bentuk amal yang kopong, tak berisi, tak berarti apa-apa. Dalam kaitan dengan dosapun demikian pula adanya, sekecil apapun bentuk pelangaaran jika kita anggap sebagai hal yang remeh hal itu bisa jadi merupakan sesuatu yang membangkitkan murka Allah, seperti halnya cerita seorang yang dihukum gantung tadi.

Akhir cerita nina kembali mengirim pesan singkatnya, "terima kasih ya".

About the Author

Jusman

Author & Editor

Has laoreet percipitur ad. Vide interesset in mei, no his legimus verterem. Et nostrum imperdiet appellantur usu, mnesarchum referrentur id vim.

1 comments:


iklan

 

Copyright © ISLAM itu Indah. All rights reserved. Template by CB Blogger & Templateism.com